Membaca pikiran dengan metode NLP

Posted: 23 Juli 2011 in Magic Art

(SERI RAHASIA MENTALIST)

Bagaimana caranya membaca pikiran ?

Saya tidak bisa memberi tahu cara atau triknya karena itu rahasia para mentalis, namun saya bisa mengajarkan anda metode latihannya.

Salah satu metode yang umum di gunakan mentalis untuk Mind reading ialah metode NLP. Yaitu metode Mind reading dengan membaca sinyal-sinyal syaraf dari target anda, bagi pakar psikologi atau neurolog pasti tidak asing dengan metode ini…

Apakah NLP itu…..?

Orang-orang memahami NLP dan mengambil berbagai manfaat darinya. oleh karena itu, definisi NLP banyak dan bervariasi. ”NLP adalah keingintahuan, panduan pemikiran, pembelajaran hakikat pengalaman, dan perangkat lunak otak,” kata Carol Harris penggagas elemen-elemen dasar NLP.

Penyusun materi NLP New Technologyof Achievement, Stve Andreas, menambahkan NLP merupakan studi tentang kesempurnaan manusia. cara untuk lebih sering menunjukan aksi terbaik anda, pendekatan bernas dan praktis dalam mengubah diri. NLP adalah,”teknolo​gi baru pencetak prestasi.”

Semau kiranya definisi tersebut diatas kiranya cukup tepat. Akan tetapi, coba kita lihat definisi lebih ilmiah dari NLP.

Neuro-Linguisti​c Programming (NLP) adalah model komunikasi interpersonal dan merupakan pendekatan alternatif terhadap psikoterapi yang didasarkan kepada pembelajaran subyektif mengenai bahasa, komunikasi, dan perubahan personal. NLP diawali pada sekitar tahun 1970-an oleh Richard Bandler dan John Grinder. Semula pembahasan lebih terpusat pada berbagai “hal beda yang dapat membuat perbedaan” antara individu “unggul” dengan individu “rata-rata”. Guna memahami lebih lanjut akan perbedaan tersebut, mereka melakukan serangkaian pemodelan pada berbagai aspek dari individu “unggul”, seperti berbagai prilaku dalam menerima serta menyikapi lingkungan sekitar. Hal itu berujung pada pemahaman mengenai mekanisme kerja pikiran. Sehingga NLP berisikan berbagai presuposisi mengenai mekanisme kerja pikiran dan berbagai cara individu dalam berinteraksi dengan lingkungan dan antar sesamanya, disertai dengan seperangkat metode untuk melakukan perubahan.

Secara semantik, Neuro dapat diartikan sebagai berbagai mekanisme yang dilakukan individu dalam menginterpretas​ikan informasi yang didapat melalui panca indra dan berbagai mekanisme pemprosesan selanjutnya di pikiran. Linguistic ditujukan untuk menjelaskan pengaruh bahasa yang digunakan pada diri maupun pada individu lain yang kemudian membentuk pengalaman individu akan lingkungan. Programming dapat diartikan sebagai berbagai mekanisme yang dapat dilakukan untuk melatih diri seorang individu (dan individu lain) dalam berpikir, bertindak dan berbicara dengan cara baru yang lebih positif. Walaupun pikiran individu telah memiliki program “alaminya”, yang didapat baik melalui pewarisan secara genetis maupun melalui berbagai pengalaman, individu tetap dapat melakukan peprograman ulang sehingga dapat bertindak lebih efektif.

NLP semula dikembangkan sebagai salah satu perangkat psychotherapeut​ic. Namun kemudian memperoleh kredibilitas ketika diaplikasikan pada berbagai bidang, seperti bisnis, komunikasi dan lainnya. NLP juga sangat bermanfaat ketika digunakan pada pengembangan pribadi maupun pada proses belajar dan mengajar yang efektif.

Persepsi Sensorik

Setiap individu memahami berbagai pengalaman melalui panca indra atau dalam terminologi NLP dikenal sebagai VAKOG (Visual, Auditory, Kinesthetic, Olfactory dan Gustatory). Setelah berusia dua belas tahun, umumnya individu memiliki preferensi dari kelima jalur informasi tersebut, umumnya di antara tiga jalur berikut; Visual, Auditory atau Kinesthetic. Pemilihan jalur tersebut juga tergantung pada material yang dipelajari individu. Seorang musisi lebih cenderung menggunakan jalur pendengaran dibandingkan dua jalur yang lain. Pemahaman akan hal ini sangat penting dimiliki oleh para pendidik karena menentukan efektifitas proses pembelajaran.

Otak manusia juga menggunakan metode kerja dari kelima jalur informasi tersebut dalam memproses dan mengambil kembali berbagai informasi yang telah dipelajari. Individu umumnya mampu memvisualisasik​an, berbicara dengan dirinya sendiri, merasakan (secara fisik atau emosional), membedakan berbagai rasa, membedakan berbagai aroma dan masih banyak lagi. Setiap individu memiliki preferensi yang berbeda saat memproses informasi dan menindaklanjuti​ hasil pemikirannya dalam bentuk tindakan atau eksperesi. Perbedaan ini dapat dengan jelas anda perhatikan salah satunya melalui bahasa sensorik (sensory language) yang digunakan, seperti; “Masalah itu terasa seperti beban yang sangat berat di pundak saya.” (Kinesthetic) “Dapatkah anda membayangkan apa yang sedang saya bicarakan?” (Visual) “Hal tersebut terdengar tidak asing bagi saya.” (Auditory)

Ketika individu menyelaraskan bahasa sensorik yang digunakan dengan lawan bicaranya, individu tersebut segera mendapatkan komunikasi yang dipersepsikan lebih efektif daripada komunikasi normal. Hal ini bisa terjadi secara otomatis pada individu yang telah terbiasa bergaya persuasif ataupun vokal dalam mempengaruhi lawan bicara.

Biasanya mentalis meminta targetnya untuk: “tatap mata saya!!” tahu tidak kenapa ? nah dia mind reading dengan menatap mata targetnya untuk membaca gerakan pupil mata targetnya…

Gerakan bola mata juga mengindikasikan​ mekanisme yang sedang terjadi di pikiran individu. Berikut gerakan bola mata dan proses internal yang terjadi di pikiran:

Atas kiri (Vr) Mengingat suatu gambar
Datar kanan (Ac) Membayangkan suatu suara
Datar kiri (Ar) Mengingat suatu suara
Bawah kanan (k) Merasakan suatu rasa
Bawah kiri (Ad) Dialog internal

Perhatikan bila orang menggambarkan bentuk benda atau image maka pupil matanya akan bergerak ke atas lalu kiri atas, dan terus mengikuti bentuk benda itu. misalnya : dia menggambarkan bentuk kotak, pupil matanya bergerak ke atas, lalu kiri atas, lalu geser ke kanan lalu ke bawah. Nah pahami metode di atas.

satu aplikasi metode yang sederhana untuk berlatih mind reading :

siapkan tempat yang sepi biar mudah konsentrasi, siapkan 4 buah kertas kecil, masing-masing gambar bentuk : kotak, lingkaran, segitiga dan bintang, minta teman anda yang bisa di percaya untuk masukkan kertas itu di kantongnya, minta dia mengambil salah satu kertas itu, usahakan hanya dia yang tahu, mulailah Mind reading…

katakan pada teman anda :
“KONSENTRASI, (tatap mata teman anda….)
tolong anda gambarkan dengan jelas atau seterang mungkin di pikiran atau benak anda gambar benda yang anda ambil”
(beri jeda 5 detik, saat ini anda baca gerakan pupil mata teman anda. Nah coba tebak, kalau benar, minta teman anda bilang benar, kalau salah, berlatih lagi yang giat, ULANGI METODE INI BERULANG KALI sampai anda mendapatkan prosentase benarnya 100%….)

Apakah hanya itu efek mentalis yang dapat dilakukan dengan NLP ?

Mari kita lanjutkan bahasan kita dan setelah anda membacanya dengan seksama, cobalah anda aplikasikan teori di bawah ini menjadi sebuah pertunjukan mentalis.

Presuposisi

NLP memberikan seperangkat presuposisi bagi individu agar dapat berfungsi secara “normal”. Individu tidak perlu meyakini setiap presuposisi ini, namun individu menjadi lebih efektif jika mengaplikasikan​nya seolah semua presuposisi berikut benar.
•Tubuh dan pikiran terhubung satu sama lain
Proses berpikir dapat mempengaruhi kondisi fisik. Demikian pula sebaliknya, kondisi fisik dapat mempengaruhi cara berpikir.
•Peta bukanlah “area” sebenarnya
Setiap individu memiliki model dunia di dalam pikirannya. Namun tidak satupun dari berbagai model tersebut yang benar-benar akurat dalam merepresentasik​an area yang sebenarnya.
•Peta dapat menjadi “area”
Ketika individu benar-benar menyakini model dunia di pikirannya, segera model tersebut berubah menjadi kenyataan bagi dirinya. Berbagai sumber daya dan batasan yang ada pada model tersebut, segera menjadi nyata baginya.
•Komunikasi dapat terjadi pada kondisi sadar dan kondisi bawah sadar
Komunikasi sadar terjadi misalnya saat berbicara dengan lawan bicara, sementara komunikasi bawah sadar terjadi misalnya saat individu terbangun dari tidur dan segera mendapati jawaban atas masalah yang sedang dihadapi.
•Komunikasi dapat dilakukan secara verbal dan non-verbal
Bahkan sebenarnya komunikasi non-verbal lebih menentukan efektifitas suatu komunikasi dibandingkan komunikasi verbal.
•Semua hal yang dilakukan individu memiliki maksud positif
Setiap hal yang dilakukan memiliki sedikitnya satu nilai positif/kegunaa​n (walaupun di mata orang lain hal ini tidak selalu positif)
•Tidak ada kegagalan, yang ada hanya umpan balik
Setiap tindakan individu pasti mendatangkan hasil. Apakah hasilnya sesuai dengan harapannya atau tidak, tetap membawa pesan bagi individu tersebut.
•Arti suatu komunikasi yang sebenarnya adalah respon yang didapatkan
Hal ini berarti apa pun maksud yang ingin disampaikan, respon yang individu dapat menyiratkan arti sebenarnya dari komunikasi yang anda lakukan.

Empat Pilar Utama NLP
NLP memiliki empat pilar utama. Adapun keempat pilar tersebut adalah:

Hasil (Outcome)
Sebelum memulai suatu komunikasi, terlebih dahulu individu perlu mengenali hasil akhir yang diinginkan. Pemahaman sepenuhnya atas hasil yang ingin didapatkan sangat membantu proses pencapaian. Ketika individu benar-benar memahami hasil akhir dari komunikasi yang dilakukan, maka dirinya dapat dengan mudah mengarahkan seluruh komunikasi ke hasil akhir tersebut. Selain itu, pemahaman individu atas hasil akhir juga membantu dalam mengidentifikas​i efektifitas suatu komunikasi, apakah semakin mendekatkan atau menjauhkan dari hasil yang diinginkan.

Rapport
Rapport merupakan inti dari komunikasi yang efektif. Salah satu cara untuk membangun rapport adalah dengan mengikuti (pacing) lawan bicara, contohnya dengan menyamakan bahasa tubuh, laju nafas dan lainnya. Hal ini didasari karena setiap individu hanya menyukai individu yang serupa.
Akuitas Sensorik (Sensory Acuity) Akuitas sensorik adalah kemampuan menggunakan panca indra untuk mengamati individu lain secara cermat tanpa asumsi ataupun penilaian tertentu sebelumnya sehingga individu dapat memberikan respon dengan rapport yang maksimal.

Fleksibilitas (Flexibility) Guna mencapai hasil akhir yang diinginkan, individu membutuhkan fleksibilitas. Hal ini disebabkan karena terkadang metode komunikasi yang digunakan tidak bekerja sesuai yang diharapkan. Sehingga, untuk tetap mencapai hasil akhir yang diinginkan, individu perlu mengganti strategi komunikasinya. Dengan memiliki fleksibilitas dalam berkomunikasi, kemungkinan mencapai hasil akhir semakin besar.

Bahasa
Reframing adalah membuat sudut pandang baru atas suatu pengalaman. Individu dapat merubah cara berpikir mengenai suatu hal dengan mengubah bahasa yang digunakan. Mengganti penyebutan dari “masalah” menjadi “tantangan” adalah salah satu contohnya. Hal itu tidak akan merubah situasi, namun dapat merubah cara bersikap sehingga setelahnya merubah cara dalam berprilaku.
Individu lebih mudah mendapatkan solusi ketika merubah posisinya, karena perubahan posisi dapat merubah persepsi. Ketika individu berada pada suatu konflik, usahakan agar dapat memposisikan diri pada individu lain, membayangkan jalan pikirannya berkenaan dengan masalah tersebut. Sehingga individu bersangkutan mendapatkan pemahaman baru. Individu pun dapat pula merubah posisinya pada berbagai macam kemungkinan lainnya. .

Model atas suatu pengalaman yang dibuat oleh individu tidak sama dengan pengalaman yang sebenarnya. Kerancuan model pada akhirnya mengarah pada kerancuan cara bertindak. Guna mencegah hal tersebut, individu perlu mendapatkan model presisi (precision modelling). Model presisi memungkinan individu membentuk meta-model (meta = di atas, model atas model itu sendiri) sehingga individu mendapatkan model yang berbeda dari model yang sebelumnya. Hal ini memungkinkan individu untuk kemudian memilih model yang disukai di antara model yang tersedia. Pemodelan presisi mengidentifikas​i berbagai cara bahasa dalam membatasi suatu pengalaman. Beberapa contoh dari pemodelan presisi dapat diberikan sebagai berikut:
•Penghapusan (Deletions)
Contoh: Saya tidak mengerti — Apa yang secara spesifik tidak anda mengerti?
•Universal quantifiers (selalu, semua, setiap dan lainnya)
Contoh: Setiap orang membenci saya — Setiap orang? Setiap orang di bumi?
•Comparative deletions
Contoh: Saya ingin menjadi seorang yang lebih baik — Lebih baik dari apa?
dan masih banyak lagi lainnya

Juga penting bagi individu untuk benar-benar spesifik dalam menentukan tujuan. Gunakan kata-kata yang positif untuk menggambarkan secara spesifik berbagai hal yang diinginkan (dibandingkan dengan hal yang ingin dihindari).

Metaprograms
Metaprograms merupakan program yang telah ada (built-in) yang mempengaruhi setiap tindakan individu. Sedikitnya saat ini telah dapat diidentifikasi sebanyak 64 metaprogram dan tentunya masih banyak lagi yang belum teridentifikasi​. Berikut disajikan beberapa contohnya:
•Berpikir dahulu atau bertindak dahulu?
•Menilai pencapaian menggunakan standar diri atau berdasarkan pujian atau hinaan orang lain?
•Menginginkan semua hal untuk sama atau mudah terstimulasi oleh berbagai hal baru dan berbeda?
•Termotivasi oleh hasil pencapaian atau berbagai risiko yang mengancam jika tidak/gagal mengerjakan?
•Lebih senang diberitahu untuk melakukan sesuatu atau lebih senang melakukan dengan cara sendiri?
•Dan lainnya

Apa pun cara alami individu dalam melakukan pekerjaan, selalu ada individu lain yang melakukan dengan cara berbeda. Mungkin seorang individu menganggap caranya adalah cara yang benar dan tidak menyadari sebenarnya ia hanya melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda.
Dari berbagai metaprogram yang ada, sekitar 30-40% dari populasi memiliki preferensi berada di salah satu kutub, sementara sekitar 20-30% berada di antaranya. Namun bagaimana pun juga, mayoritas individu perlu melihat gambar besarnya terlebih dahulu sebelum mereka memahami detailnya, dan sebagian besar individu sangat nyaman dengan persamaan (sedikit perbedaan) dibandingkan perbedaan yang menyolok – dan salah satu penyebab mengapa perubahan di suatu organisasi cenderung lambat.

Jika individu mengetahui modus “normal” dari tingkah laku seseorang, ia akan jauh lebih mudah memahami dan menyikapi individu tersebut dengan fleksibilitas.
Penjangkaran (Anchoring)

Anchoring terjadi secara alami ketika di suatu tempat suatu aroma, suara atau yang lainnya memunculkan kembali berbagai hal berkenaan dengan suatu pengalaman pada diri individu. Pemahaman atas berbagai fenomena alami ini dapat membantu individu untuk menghancurkan berbagai anchor negatif yang mungkin telah tertanam di dirinya (seperti rasa takut yang muncul ketika anda mendengar suara anjing, walaupun tidak melihatnya).

Metode anchoring dapat pula diaplikasikan pada proses belajar mengajar misalnya dengan menggunakan pengkodean warna untuk suatu pesan. Atau tempat yang konsisten untuk suatu hal, seperti pojokan yang tenang di mana tugas dapat diselesaikan, tempat dimana tugas dapat ditulis, dan berbagai hal lain yang ditujukan untuk meningkatkan disiplin.

Submodalities

Ketika individu memvisualisasik​an sesuatu sebenarnya terdapat banyak proses terjadi pada pikirannya. Sebagian individu mungkin mendapatkan gambar yang jelas, sebagian mungkin mendapatkan gambar yang buram, namun kebanyakan individu dapat menjawab pertanyaan seperti: apakah gambarnya memiliki batas? Apakah gambarnya dalam hitam/putih? Seberapa dekatnya anda dengan gambar tersebut? Apakah anda melihat gambar tersebut dari luar (dissociated) atau apakah anda kembali mengalami pengalaman tersebut (associated). Apakah anda dapat memanipulasi gambarnya: membuatnya lebih besar/kecil, lebih jauh/dekat dan lainnya. Semua varian ini disebut sebagai submodalities. Untuk panca indra yang lain juga memiliki submodalities, seperti: untuk pendengaran, apakah suaranya menjadi lebih keras/pelan, menjadi lebih jelas/samar¸ frekuensinya lebih tinggi/rendah¸ atau yang lainnya. Memanipulasi berbagai submodalities dapat mempengaruhi persepsi individu terhadap suatu pengalaman. Hal ini merupakan salah satu prinsip pada terapi yang berbasiskan NLP.

Garis Waktu (Timelines)

Hal ini disebut juga sebagai level logika. Individu beroperasi lebih efisien dan merasa lebih senang jika seluruh aspek dalam hidupnya berjalan secara harmonis. Level logika tersebut adalah: lingkungan, tingkah laku, kemampuan, keyakinan, identitas, spritual. Level logika ini dikreasikan oleh Robert Dilts, yang memetakan level berpikir dan berperilaku manusia ke dalam 6 tingkatan yang saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain.
1.Spiritual – menjawab pertanyaan “Untuk siapa/apa?” Apa yang kita pikirkan dan lakukan di dalam konteks tertentu, mewakili sebuah tujuan yang lebih tinggi di luar diri kita. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, ini bisa berarti Agama atau Kepercayaan. Dalam konteks organisasi, ini berarti visi dan misi organisasi sendiri.
2.Identitas – menjawab pertanyaan “Siapa saya?” Apa visi dan misi pribadi kita sendiri dalam konteks yang kita emban. Ini erat hubungannya dengan apa yang disebut sebagai jati diri, atau gambaran identitas diri.
3.Nilai-nilai dan keyakinan – menjawab pertanyaan “Kenapa?” Apa alasan kita memikirkan dan melakukan sesuatu di sebuah konteks. Nilai-nilai adalah apa yang penting dan yang kita cari, sedangkan keyakinan adalah apa yang kita percayai dan yakini atau simpulkan sebagai hubungan sebab-akibat atau berdasarkan peng-inderaan kita terhadap sekitar kita.
4.Kemampuan – menjawab pertanyaan “Bagaimana?” Apa yang mampu kita lakukan di konteks tertentu. Ini menyangkut kemampuan yang sudah kita tunjukan maupun belum kita gali sepenuhnya. Seperti halnya nilai dan identitas diri, kemampuan adalah hal yang tidak terlihat jelas atau sempurna secara indera.
5.Perilaku – menjawab pertanyaan “Apa yang dilakukan dan dipikirkan?” Ini adalah bagian yang terinderakan orang lain. Sesuatu yang kita pikirkan dan kita lakukan. Di NLP, ini tidak selalu menunjukkan kemampuan kita sebenarnya, tidak selalu mewakili nilai yang kita emban, dan tidak juga selalu menunjukkan identitas diri kita. Dan perilaku sangat tergantung dari peta realita kita masing-masing.
6.Lingkungan – menjawab pertanyaanb “Di konteks mana?” Sekeliling kita, entah itu di konteks pekerjaan, keluarga, masyarakat, negara, dunia. Kita masing-masing menempatkan diri di sebuah konteks. Dan kelima level lainnya akan menentukan pergerakan dan efektifitas kita di konteks tersebut.

ASUMSI-ASUMSI DASAR NLP
1.Mengetahui cara orang lain membentuk dunianya
2.peta bukanlah wilayah
3.selalu ada maksud baik dari tiap tingkah laku
4.Orang-orang melakukan hal terbaik yang mereka bisa sebatas
5.Sumber-sumber yang mereka ketahui.
6.Tidak ada orang yang kaku, hanya komunikator yangKurang fleksibel.
7.Makna komunikasi adalah respon yang anda peroleh
8.Seseorang dengan fleksibilitas akan mampu mengontrol dirimya.
9.Tak ada kegagalan, hanya umpan balik yang kurang tepat
10.Setiap pengalaman memiliki struktur sendiri.jika anda
11.mengubah struktur, dengan sendirinya pengalaman akan berubah.
12.Manusia mempunyai dua tingkatan komunikasi:sada​r dan bawah sadar.
13.Semua orang memiliki sumber-sumber yang cukup guna menubah diri kea rah yang lebih positif.
14.Sumber-sumber tersebut berada di pengalaman masa lalu masing-masing.
15.Tubuh dan pikiran saling mempengaruhi.
16.Jika sesuatu mungkin bagi seseorang, maka hal itu juga bagi yang lain.
17.Saya bertanggung jawab tentang pemikiran saya oleh karena itu, saya juga bertanggung jawab akan hasil yang saya peroleh.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s